Kamis, 21 April 2011

Batubara Jauh Lebih Mematikan daripada Tenaga Nuklir

Dengan adanya krisis nuklir di Jepang, Jerman telah mematikan sementara 7 reaktornya dan Cina yang sedang membangun paling banyak PLTN di dunia ini telah menunda persetujuan bagi seluruh fasilitas barunya. Namun reaksi ini mungkin lebih dipengaruhi oleh politik daripada oleh ketakutan akan adanya suatu bencana yang membawa kematian.
Hal ini mungkin sedikit menghibur bagi mereka yang tinggal di sekitar Fukushima, tetapi memang tenaga nuklir membunuh jauh lebih sedikit orang dibandingkan dengan sumber energi lain, menurut sebuah kajian oleh International Energy Agency.
“Tak ada sanggahan,” kata Joseph Romm, seorang ahli energi di Center for American Progress di Washington DC. "Tidak ada yang lebih buruk daripada bahan bakar fosil dalam membunuh orang. "
Sebuah kajian tahun 2002 oleh IAE mengumpulkan studi-studi yang telah dilakukan untuk membandingkan jumlah kematian per unit listrik yang dihasilkan untuk beberapa sumber energi utama. Badan ini memeriksa siklus hidup masing-masing bahan bakar mulai dari ekstraksi hingga purna-pakai dan memasukkan kematian yang diakibatkan oleh kecelakaan serta karena risiko jangka panjang akibat emisi atau radiasi. Nuklir muncul sebagai yang terbaik dan batubara adalah sumber energi yang paling mematikan. Penjelasannya terletak pada besarnya jumlah kematian yang disebabkan oleh polusi.
"Batubara pada seluruh siklus hidupnya menunjukkan jejak cidera, penyakit dan kematian, " kata Paul Epstein, direktur asosiasi dari Pusat Kesehatan dan Lingkungan Global di Harvard Medical School.
Partikel lembut dari PLTU batubara membunuh sekitar 13.200 orang setiap tahunnya di Amerika Serikat saja, menurut Boston-based Clean Air Task Force (Tile Tal/from Coal, 2010). Tambahan korban jiwa juga muncul dari dari kegiatan pertambangan dan pengangkutan batubara serta bentuk-bentuk polusi lain terkait dengan batubara.
Sebaliknya, International Atomic Energy Agency (IAEA) dan PBB memperkirakan jumlah korban mati karena kanker setelah krisis tahun 1986 di PLTN Chernobyl mencapai sekitar 9.000 orang. Bahkan, angka korban mati dari tenaga nuklir sebenarnya tidak seluruhnya terkait langsung dengan tenaga nuklir. Lebih dari separuh kematian berasal dari kegiatan pertambangan uranium, menurut IEA. Namun meskipun angka tersebut dimasukkan kedalam korban mati akibat tenaga nuklir namun jumlah korban keseluruhan tetap jauh lebih rendah dibandingkan dengan sumber bahan bakar lainnya.
Jadi, mengapa orang selalu terpaku pada tenaga nuklir ?
"Dari batubara kita menemukan suatu perkembangan siginifikan angka kematian tahun demi tahun yang selama ini tidak terlihat oleh kita, ini hal mengagetkan laksana serangan jantung, karena selama ini rilis nuklir dalam skala besar kita anggap sebagai bencana besar yang membawa banyak kematian seperti yang kita takutkan selama ini " kata James Hammitt dari Harvard Center for Risk Analysis di Boston.
Sekali lagi, persepsi populer ternyata salah. Ketika, pada tahun 1975, sekitar 30 bendungan di Cina tengah gagal akibat banjir, diperkirakan 230.000 orang meninggal. Hanya dengan kejadian tunggal ini saja jumlah kematian dari tenaga air jauh melebihi jumlah kematian dari seluruh sumber energi lainnya. Phil McKenna

Copy paste : Diterjemahkan oleh Sumarbagiono dari artikel “Coal is far deadlier than nuclear power” pada Majalah NewsScientist, ISSN 0262 4079, 26 Maret 2011, Reed Business Information Ltd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.