Jumat, 20 Agustus 2010

Dasar metodologi ku

Tiada harapan untuk menunggu seorang awam mempelajari bahasa seorang pakar, waktu hanya terbuang untuk menunggu.
Maka para pakarlah yang harus belajar menyesuaikan bahasa untuk seorang awam, agar mereka dapat mudah untuk mengerti apa yang disampaikan.

Seperti beberapa buku yang pernah saya tulis, tentang 'metode penyampaian proporsional' semua hanya berkutat disegi bahasa dan cara mudah dalam penyampaian. Sering kita bertemu dengan seseorang yang salah persepsi terhadap apa yang kita sampaikan, itu biasa tapi yang tidak menjad biasa adalah perdebatan karena salah asumsi terhadap yang disampaikan.
Beberapa kejadian yang disebabkan karena kesalah pahaman dalam menerima pandangan:
1. Salah langkah dalam menentukan kebijakan hidup
2. Merugikan orang disekitarnya
3. Efek jangka panjangnya adalah menyesatkan hal yang salah pada keturunan dan orang di sekelilingnya


Seperti halnya masalah-masalah klasik yang seharusnya tidak diperdebatkan menjadi perbincangan yang memalukan, mengapa? karena mereka sulit menerima bahasa kebenaran dan atau terlalu sulit menerjemahkan bahasa yang didalamnya mengandung kata-kata sulit dicerna oleh kemampuan seseorang.
sebagai contoh:
1. Kebiasaan Merokok, sebetulnya tidak perlu diperdebatkan antara haram atau tidaknya. Semua jelas dalam penanganan logika dasar bahwa "sesuatu yang merugikan diri sendri maupun orang lain adalah dosa". Kata-kata dalam tanda kutip semoga jelas untuk dipahami.
2. Poligami, cukup jelas kebenarannya bagi orang-orang yang berakal.
3. Penggunaan Alkohol, cukup jelas kebenarannya bagi orang-orang yang berakal.
4. Dan lain sebagainya

Dari hal diparagraf atas, semua tidak akan terjadi perdebatan bila sang pakar menyampaikannya dengan bahasa yang benar, jadi apa itu bahasa yang benar? yaitu bahasa yang mudah difahami sesama untuk interaksi. "Kecuali orang-orang munafik yang tau kebenaran tetapi dia tidak menerima kebenaran".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.